Jumat, 04 November 2011

Profil Kru Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT

Ketua Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT ini bernama lengkap Muhammad Syaiful Simollah. Ia adalah pecinta ilmu pengetahuan dan berminat pada berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Belum lama, lelaki berumur 25 tahun kelahiran Ujung Pandang, 4 Maret 1986 ini telah menyelesaikan studinya pada jurusan Antropologi Fisip UH dan sejak september 2011 merupakan alumnus Universitas Hasanuddin. Selain sebagai penggiat ilmu pengetahuan, ia juga merupakan seorang yang berminat dan menaruh banyak perhatian pada bidang musik. Salah satu alat musik yang menjadi kesukaannya sejak kecil adalah gitar akustik. Oleh karena itu, jika menyinggung soal musik, ia cukup bersemangat untuk bercerita dan mengambil bagian pada diskusi tersebut. Pertemuannya dengan organisasi kemahasiswaan telah menghantarkannya untuk merubah haluan dan memfokuskan diri untuk pengembangan ilmu pengetahuan, terkhusus pada bidang Antropologi sosial. Meski demikian, minat besarnya pada musik tetap ada. Ia juga merupakan sosok yang senang bercanda dan menghabiskan banyak waktu bergurau dengan teman-temannya. Bermain Playstation 2 dan menonton film adalah kegemaran lain dari lelaki bertubuh  tinggi semampai ini. Kini, komitmennya akan pengembangan kapasitas intelektual sedang dipertaruhkan. Ia dipercaya untuk menjadi bagian dalam kepengurusan PB HPMT periode 2011-2013 dibawah kepemimpinan Muh. Arman Alwi sebagai Ketua Umum. Selamat bekerja kawan!
 
Lelaki berkemauan kuat ini adalah seorang yang memiliki prinsip dan pandangan hidup yang juga kuat. Jika dilihat secara sepintas, orang-orang akan beranggapan bahwa ia adalah seorang "lelaki pemendam rasa". Memang, "pendiam" merupakan sifat yang orang lain lekatkan padanya. Padahal, jika kita mengenal dan menyelami kepribadiannya, maka kita akan menemukan sosok lelaki yang teduh, bersahaja dan sangat menarik. Solusi-solusi sederhana yang memikat menjadi karakter intelektual dari lelaki yang bernama lengkap Musmulyadi ini. Wakil sekretaris Jenderal adalah jabatan yang (paling) tepat dipercayakan kepadanya. Sebab jika melihat rekam jejak historisitas dari pengalaman organisasi yang ia miliki, kapasitas dan kompetensinya tak dapat diragukan. Sebelum menjadi Wasekjend Bidang PA PB HPMT, adhi -demikian sapaan akrabnya- adalah fungsionaris HPMT komisariat UNM dan selain itu ia juga merupakan aktivis mahasiswa di lembaga internal kampusnya. Perpaduan antara karakter tenang dan kapasitas militan yang ia miliki, menjadikannya figur yang dapat dimintai suguhan-suguhan pencerahan bagi orang-orang yang merindukan kedamaian. Kenalilah ia, sebab ada banyak hal-hal yang mengejutkan pada dirinya. Salam hangat pak wasekjend!

(Agak) Misterius dan ambisius menjadi karakter dari seorang lelaki pemilik bernama lengkap Asri Abu ini. Saat ini Asri adalah mahasiswa pasca-sarjana FKM Unhas. Akademik adalah pilihan hidup yang diambilnya. Menurutnya, seorang aktivis (mantan aktivis kampus) tidak hanya harus melulu berorientasi pada pekerjaan sebagai politisi. Ada banyak ruang kerja dan orientasi kehidupan yang bertaburan diluar sana, dan setiap orang harus memilih berdasarkan apa yang menjadi kompetensinya, sehingga akan ditemukan konsep masyarakat yang betul-betul berjiwa profesional. Jika tidak, hal ini akan membuat terjadinya kekacauan sosial. Sebab kompetisi di ruang yang terbatas akan menyebabkan kondisi kesesakan, katanya. Pandangan ini adalah salah satu penalarannya yang brillian. Oleh karena itu, ia dipercaya sebagai salah satu kru pada Bidang Pembinaan Anggota sebagai Koordinator Departemen Pengkajian Data dan Informasi. Kita berharap banyak, semoga ia dapat benar-benar menebarkan virus profesionalitas di lingkungan HPMT Kabupaten Jeneponto dengan semangat yang ia miliki. Bravo!

Meskipun Anda berkali-kali berusaha memancing kemarahannya (dengan cara apapun), sado' (bukan nama samaran) akan tetap stay cool bagaikan batu karang di tepi pantai Samalona. Hangat dan sabar  senantiasa menjadi karakter utama yang menghiasi hari-hari pemilik nama lengkap Asriadi Rustam ini. Itu yang membuat orang-orang senang bekerjasama dan berteman dengan alumni Fakultas Pertanian Unhas ini. Semasa ia bermahasiswa, sado' merupakan mahasiswa yang memiliki segudang pengalaman organisasi. Mulai dari organisasi internal hingga organisasi eksternal (salah satunya HPMT komisariat Unhas). Kesibukannya dalam bermahasiswa dan berorganisasi membuatnya "sedikit" melupakan waktu untuk berpacaran, sehingga dalam waktu yang lumayan lama, lelaki ini tetap memilih untuk menjadi jomblo. Oleh karena itu, berdedikasi adalah kata kunci yang kita miliki untuk menggambarkan figur sado' yang baik hati ini. Dengan bekal pengalaman teknis organisasi yang memadai, sado' mencoba menguji kemampuan organisasinya di Bidang PA PB HPMT. Ia dipercayakan memikul tanggungjawab sebagai Koordinator Departemen Pendidikan dan Latihan Kader. Hangatkan kami, sado'!


Warna idealis dan realistis tidak akan ada jika saja amir (sapaan akrab) tidak mengambil bagian dalam Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT. Berbekal intelektualitas dan kapasitas yang mumpuni, lelaki yang bernama lengkap Amiruddin ini telah menyihir Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT menjadi bidang yang beratmosfir intelektual. Semangat intelektualitas ini pula yang kemudian ia tawarkan dan secara kolektif dirumuskan dalam program-program kerja di Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT. Bukanlah sesuatu yang mengherankan jika kita mencoba menelusuri latar belakang organisasi yang membesarkan amir sehingga ia memiliki bekal intelektualitas ini. Selain HPMT, ia juga aktif sebagai aktivis mahasiswa di organisasi HMI. Disamping bermunajat dan berikhtiar untuk mendapatkan nilai akademik yang memuaskan, mahasiswa UNM semester akhir ini juga terlibat aktif sebagai pembicara-pembawa materi kajian dalam berbagai majelis-majelis ilmu di organisasi HMI. Berdebat, berdiskusi dan menaklukkan gelap adalah nafas sehari-harinya. Amir juga bisa diandalkan sebagai teman curhat yang baik. Ini membuatnya selain menjadi pembicara yang jitu, ia juga adalah seorang pendengar yang sabar. Tepatlah kiranya jika julukan “mata air pengetahuan” dilekatkan kepadanya. Kita berharap, energi amir tidak cepat-cepat redup. Sehingga ia mampu menebarkan cahaya pada setiap langkah dan gerak aktifitas keorganisasiannya, terkhusus di PB HPMT. Sinari kami, bung! 

Tenang dan menghanyutkan adalah dua kata yang mampu menggambarkan sosok seorang Achmad Mushawwir. Ia adalah seorang organisatoris yang ulet bekerja dilapangan. Kemampuannya dalam mengorganisir anggota HPMT kemudian menghantarkannya menjadi Sekretaris Umum pada kepengurusan HPMT komisariat UMI sebelum menjadi Fungsionaris PB HPMT Bidang Pembinaan Anggota. Selain pekerja yang ulung, ia juga terkadang mampu melahirkan gagasan-gagasan yang memikat dan cenderung mengagetkan. Ini yang menjadikannya sosok organisatoris berkarakter pekerja dan pemikir secara sekaligus. Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT benar-benar sangat mengandalkan shawwir (sapaan akrabnya) sebagai pion penggerak bidang nantinya. Berbicara tentang karakter, shawwir terkadang pula menjadi sosok yang lucu dan menggemaskan ketika sedang iseng. Ini yang membuatnya unik. Lengkaplah sudah shawwir sebagai figur yang jarang dimiliki oleh organisasi manapun. Mari bekerja, tegas shawwir bersemangat!

Rabu, 02 November 2011

BIDANG PEMBINAAN ANGGOTA PB HPMT


BIDANG PEMBINAAN ANGGOTA
PB HPMT KABUPATEN JENEPONTO
PERIODE 2011-2013

DASAR PEMIKIRAN
Menyimak secara mendalam adagium bangsa Indonesia yang di introdusir secara berapi-api oleh pendiri bangsa ini; “...bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa!” Maka terciptalah suatu komitmen yang serius dalam upaya memerderkakan setiap individu. Hal ini pula yang menjadi dasar dari niat bidang Pembinaan Anggota (PA) sebagai bidang yang akan menciptakan kader-kader merdeka. Pada prinsipnya, kami beranggapan bahwa ruang yang seharusnya paling merdeka adalah ruang gagasan, oleh karena itu kemerdekaan haruslah dimulai dari isi kepala. Sehingga menjadi tepatlah kiranya jika bidang ini tempatkan pada poros garda terdepan dalam mengawal pembangunan kapasitas internal anggota dan kader HPMT kedepan, terkhusus pada periode 2011-2013 dibawah tampuk kepemimpinan Muhammad Arman Alwi sebagai Ketua Umum PB HPMT Kabupaten Jeneponto.
Sejauh yang kami ketahui, perkaderan memiliki dua dimensi penting, yakni; dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal yang dimaksud adalah pemahaman tentang perkaderan sebagai wahana enkulturasi, sosialisasi dan pengamalan nilai-nilai Islam kedalam diri kader. Dalam pendekatan dimensi ini, maka akan terjelaskan bahwa perkaderan merupakan kanal transformasi nilai atau ikhtiar menggeser nilai anutan para kader dari nilai jahiliyah menuju kearah nilai-nilai humanistik sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Oleh karena itu, perkaderan menjadi arena menawarkan nilai-nilai ideal sebagai nilai pilihan yang harus diambil oleh kader Himpunan Mahasiswa Pelajar Turatea (HPMT) Kabupaten Jeneponto.
Sementara itu, pada dimensi eksternal perkaderan yang dimaksud adalah menempatkan perkaderan sebagai ajang kontestasi dan ruang aktualisasi potensi diri kadernya. Dimensi ini memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan keilmuan, minat dan bakat seseorang yang tengah berproses dalam perkaderan organisasi, khususnya Himpunan Pelajar Mahasiswa Turatea (HPMT) Kabupaten Jeneponto.
Dalam diskursus perubahan sosial, dapat diamati bahwa setiap sejarah memiliki cerita dan semangatnya masing-masing. Karena sejarah menyisakan kebudayaan, maka merupakan sebuah keniscayaan bahwa kebudayaan memiliki maknanya sendiri-sendiri berdasarkan konteks zamannya. Terlepas bahwa makna tersebut adalah reproduksi massal komunitas tertentu ataukah reproduksi individu penganut kebudayaan tersebut, pada intinya kebudayaan adalah hasil reproduksi manusia yang dilakukan secara berulang-ulang hingga menemui konteks kesempurnaannya. Pada konteks ini, perkaderan dapat dilihat sebagai salah satu manifestasi budaya dalam pendekatan kognisi (pengetahuan). Artinya, reproduksi budaya perkaderan tak pernah terlepas dari seperti apa preferensi yang dimiliki kelompok (komunitas) tersebut, entah apakah itu nilai, mentalitas serta berbagai hal yang berkenaan dengan pengetahuan penganutnya. Hal ini mengakibatkan pada setiap sejarah perkaderan yang ada, memiliki warna atau karakteristik khasnya tersendiri yang barang tentu akan membuat perbedaan perkaderan di tiap zaman yang berbeda pula.
Konsekuensi logis dari asumsi tersebut adalah bahwa budaya perkaderan tidaklah statis melainkan dinamis. Perubahan akan senantiasa terjadi cepat atau lambat. Namun, seringkali perubahan tidak selamanya menuai hasil yang lebih baik. Oleh karena itu pengawalan perkaderan merupakan hal yang niscaya secara serius untuk diperhatikan oleh semua kalangan (stake holder) pengader. Hal ini tidak terlepas dari jalinan dan jejaring kerjasama yang dilakukan diantara komisariat dan PB HPMT itu sendiri.
Dari dasar pemikiran diatas, perkaderan akan dititikberatkan pada dua hal yang kami anggap krusial, yakni (1) membuka ruang diskursus pengetahuan di setiap kesempatan yang ada dengan menciptakan tradisi intelektualitas di tubuh HPMT serta (2) mengupayakan proses regenerasi kader tiap tahunnya di setiap komisariat sejajaran HPMT. Program-program yang akan dicanangkan oleh Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT Kabupaten Jeneponto Periode 2011-2013 tentunya adalah sesuatu yang difokuskan pada pembenahan epistemologi kader, baik dengan cara merekonstruksi ulang atau dengan cara mendekonstruksi nilai-nilai lama, sehingga akan ditemukan suatu koridor gagasan yang betul-betul memiliki semangat dan nilai-nilai humanistik-empatik.
VISI BIDANG

Visi Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT Kabupaten Jeneponto Periode 2011-2013 adalah: Rekonstruksi paradigma perkaderan HPMT sebagai upaya tercapainya nilai-nilai humanistik yang empatik demi kemajuan daerah Kabupaten Jeneponto. 
SEBUAH REFLEKSI
HPMT dengan segenap potensi yang dimilikinya (modal sosial) semestinya menjadi lokomotif perubahan terdepan di daerah ini, khususnya untuk kabupaten Jeneponto. Kader-kadernya diharapkan mampu berdaya guna di lingkungan sekitarnya. Setidaknya tidak menjadi beban sosial masyarakat. Sebuah pertaruhan masa depan yang tengah dilakoni oleh kader-kader HPMT kedepannya. Namun demikian, terdapat tuntutan yang kuat untuk menghubungkan perkaderan HPMT dengan masalah dan proses kemasyarakatan secara lebih kongkrit. Sejumlah pertanyaan yang sudah dikemukakan diatas, disamping menunjukkan kenyataan ini juga menyadarkan kita akan tingkat perubahan posisi dan kebutuhan sosial budaya HPMT.
Pada dimensi lain, secara umum perkaderan HPMT dianggap tidak lagi transformatif terhadap keadaan masyarakat jeneponto yang berada pada kondisi kesakitan. Tujuan kurang didefinisikan dan diterjemahkan secara jelas dalam perkaderan dan bahasa (logika) gerakan, seolah-olah terjadi diskontinuitas. Dibutuhkan transformasi dari normatifitas-subjektif kepada objektivitas-empirik atas konsep-konsep perkaderan yang telah dirumuskan ketika Kongres HPMT berlangsung. HPMT dan kader HPMT hendaknya bertransformasi secara obyektif menjadi prinsip dan agen perubahan diri dan masyarakat, bukan sekedar jargon normatif dan bahan diskursus. Kader memiliki mental dan etos-profetik, yakni semangat kenabian melakukan pembebasan dari semua bentuk ketidakadilan baik (terutama) dalam dirinya sendiri rnaupun masyarakat sesuai dengan proporsinya masing-masing. Inilah yang secara substansial kita sebut dengan “MERDEKA”.
*Tim Bidang Pembinaan Anggota PB HPMT Kabupaten Jeneponto.